PEDANG DAN KITAB SUCI PDF

Ehud memimpin pemberontakan melawan orang Moab , karena mereka menduduki tanah suku Benyamin. Raja ini mengajak bani Amon dan bani Amalek menjadi sekutunya. Lalu majulah ia dan memukul orang Israel kalah. Kota pohon kurma diduduki mereka. Maka 18 tahun lamanya orang Israel menjadi takluk kepada Eglon, raja Moab dan harus terus membayar upeti kepada raja kafir tersebut. Dengan perantaraannya orang Israel biasa mengirimkan upeti kepada Eglon, raja Moab.

Author:Zolosar Kazira
Country:Turks & Caicos Islands
Language:English (Spanish)
Genre:Automotive
Published (Last):10 October 2005
Pages:351
PDF File Size:14.95 Mb
ePub File Size:16.78 Mb
ISBN:806-5-69535-984-9
Downloads:7401
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tojagal



Akurasi Terperiksa. Sejarah Ordo Bait Allah meliputi waktu sepanjang dua abad selama Abad Pertengahan , semenjak berdirinya Ordo Bait Allah di awal abad ke hingga dibubarkannya ordo ini di awal abad ke Sekitar tahun , seorang bangsawan Prancis dari wilayah Champagne, Hugues de Payens , mengumpulkan delapan orang kesatria yang juga masih sanak saudaranya, termasuk di antaranya Godfrey de Saint-Omer , dan memulai Ordo Bait Allah , di mana mereka menyatakan misi mereka adalah untuk melindungi para peziarah yang dalam perjalanan untuk mengunjungi Kota Suci.

Tidak banyak yang diketahui mengenai ordo ini dalam sembilan tahun pertama berdirinya. Namun pada tahun , setelah mereka secara resmi di bawah pengawasan gereja di Konsili Troyes , mereka menjadi sangat terkenal di seluruh Eropa.

Kampanye-kampanye pengumpulan dana mereka meminta bantuan uang, tanah atau putra-putra bangsawan untuk bergabung dengan ordo ini, dengan implikasi bahwa donasi yang diberikan akan membantu baik dalam usaha mempertahankan Yerusalem dan memastikan pemberi bantuan suatu tempat di surga. Usaha-usaha ordo ini dibantu secara besar-besaran dengan dukungan Bernardus dari Clairvaux , tokoh gereja saat itu, dan seorang keponakan salah satu dari sembilan pendiri Ordo Bait Allah.

Dari penampilannya ordo ini menerima kritik yang tajam, terutama dengan konsepnya yang memperbolehkan rohaniwan untuk membawa pedang. Sebagai jawaban atas kritik ini, Bernardus dari Clairvaux membuat sebuah tulisan panjang berjudul De Laude Novae Militae "Memuji Golongan Kesatria Yang Baru" , di mana ia mendukung misi Ordo Bait Allah dan membela ide dari adanya suatu ordo religius militer dengan merujuk pada teori perang yang adil dalam paham Kristiani yang telah lama ada, di mana teori ini mensahkan "mengangkat senjata" untuk membela pihak yang tidak bersalah dan gereja dari serangan kejam.

Dengan melakukan hal tersebut, Bernardus mensahkan kehadiran Ordo Bait Allah yang menjadi biarawan kesatria pertama di dunia Barat. Donasi-donasi yang diberikan ke ordo ini jumlahnya sangat besar. Raja Aragon , di Semenanjung Iberia , mewariskan tanah yang luas setelah dirinya meninggal dunia pada tahun an.

Anggota-anggota baru ordo ini juga dipersyaratkan untuk mengambil sumpah kemiskinan dan menyerahkan semua harta miliknya kepada persaudaraan para biarawan ini. Harta mereka antara lain tanah, kuda dan harta-harta lainnya yang bernilai, termasuk di antaranya kerja sukarela dan semua bidang niaga.

Dokumen ini menyatakan bahwa para Kesatria Ordo Bait Allah dapat melewati semua perbatasan dengan bebas, tidak dikenai pajak, dan tidak tunduk pada siapapun kecuali pada Sri Paus. Hal ini merupakan suatu penegasan terhadap keberadaan para Kesatria Ordo Bait Allah dan misi-misi mereka, yang mungkin diajukan oleh sang pendukung ordo ini, Bernardus dari Clairvaux , yang membantu Paus Innosensius II untuk maju menduduki tahtanya tersebut.

Ordo Bait Allah ini berkembang secara cepat di seluruh penjuru Eropa, dengan munculnya cabang-cabang di Prancis , Inggris , dan Skotlandia , dan kemudian menyebar ke Spanyol dan Portugal. Para Kesatria Ordo Bait Allah merupakan suatu kekuatan perang yang elite di zamannya, sangat terlatih, dibekali persenjataan yang mutakhir dan bersemangat tinggi; salah satu aturan dari ordo religius mereka ini adalah bahwa mereka dilarang untuk mundur dari suatu pertempuran, kecuali jumlah mereka lebih sedikit 3 banding 1 daripada lawan mereka.

Tidak semua Kesatria Ordo Bait Allah adalah tentara. Misi sebagian besar anggotanya adalah mencari sokongan - yaitu menguasai sumber-sumber daya yang bisa digunakan untuk membiayai dan melengkapi sebagian kecil para anggotanya yang bertempur di garis depan. Oleh karena sistem ini, para tentaranya sangatlah terlatih dan bersenjata lengkap.

Bahkan kuda-kuda mereka juga dilatih untuk bertempur dalam peperangan dan dikenakan jubah pelindung. Aturan mereka mengharuskan para kesatria untuk terus bertempur bahkan pada batas-batas hingga mirip pada tindakan terlalu nekat, dan mereka dilaang untuk mundur kecuali jumlah mereka lebih sedikit 3 banding 1 - ini pun juga hanya atas dasar perintah dari para komandan mereka - atau apabila bendera Ordo Bait Allah telah jatuh.

Para Kesatria Ordo Bait Allahjuga merupakan ahli taktik yang cerdik, seperti impian Santo Bernardus dari Clairvaux yang menyatakan bahwa sebuah kekuatan yang kecil jumlahnya, dalam kondisi yang tepat, bisa mengalahkan musuh yang berjumlah jauh lebih besar. Salah satu pertempuran penting di mana taktik ini digunakan adalah pada tahun dalam Pertempuran Montgisard.

Pemimpin militer Muslim terkenal Saladin sedang berusaha untuk maju mendekati Yerusalem dari selatan, dengan kekuatan Ia telah memojokkan tentara Raja Yerusalem Baldwin IV yang terdiri atas kesatria dan para pendukungnya dekat suatu pantai di Ashkelon.

Delapan puluh Kesatria Ordo Bait Allah dan para pendukungnya mencoba untuk memberikan bantuan. Mereka bertemu dengan tentara Saladin di Gaza , namun karena dianggap terlalu kecil kekuatannya untuk menghentikan perjalanan tentara Saladin dan bertempur dengan mereka, Saladin memutuskan untuk membiarkan mereka dan terus berjalan ke Yerusalem. Setelah Saladin dan tentaranya meninggalkan mereka, para Kesatria Ordo Bait Allah bisa bergabung dengan kekuatan Raja Baldwin, dan kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke utara menyisiri pantai.

Saladin melakukan kesalahan penting saat itu - daripada menjaga kesatuan tentaranya, ia mengizinkan tentaranya untuk sementara waktu menyebar yang kemudian para tentara ini menjarah berbagai desa sepanjang jalan mereka menuju Yerusalem. Para Kesatria Ordo Bait Allah mengambil kesempatan kesiapan tentara Saladin yang rendah ini untuk melancarkan penyergapan dadakan langsung pada Saladin dan para pengawalnya di Montsigard dekat Ramla. Tentara Saladin yang sedang tersebar menjadi terlalu lemah untuk cukup mempertahankan diri mereka sendiri, yang menyebabkan Saladin dan tentaranya bertempur sambil mundur ke selatan dan berakhir dengan hanya memiliki sepersepuluh dari jumlah tentara yang dibawanya sebelumnya.

Pertempuran ini bukanlah pertempuran terakhir melawan Saladin, namun kemenangan ini membawa setahun masa damai di Kerajaan Yerusalem dan menjadikannya sebuah legenda kepahlawanan. Taktik penting lain yang digunakan oleh para Kesatria Ordo Bait Allah adalah apa yang disebut "serbuan skadron". Suatu kelompok kecil para kesatria dan kuda-kuda mereka yang dipersenjatai lengkap membentuk sebuah unit yang ketat yang akan berkuda dengan kecepat tinggi menghajar garis depan musuh, dengan suatu kesungguhan dan kekuatan yang jelas-jelas menyatakan bahwa mereka lebih baik melakukan tindakan bunuh diri daripada mundur.

Serangan gencar yang menakutkan ini seringkali mencapai tujuan untuk menerobos garis pertahanan musuh, sehingga mampu memberikan kesempatan menang yang lebih besar bagi tentara Kristen lainnya. Para Kesatria Ordo Bait Allah, walau jumlahnya relatif kecil, secara rutin bergabung dengan tentara lainnya di pertempuran-pertempuran penting.

Mereka menjadi kekuatan yang menerobos garis depan musuh di permulaan pertempuran, atau menjadi para pejuang yang melindungi tentara dari serangan lewat belakang. Walaupun pada awalnya mereka adalah sebuah ordo dari para biarawan yang miskin, aturan resmi kepausan membuat Kesatria Ordo Bait Allah sebagai badan amal di seluruh penjuru Eropa.

Sumber daya yang lebih banyak lagi diterima ketika anggota-anggota baru bergabung dengan ordo ini, sebagaimana mereka harus mengambil sumpah kemiskinan dan oleh karenanya seringkali anggota-anggota baru ini menyumbangkan uang atau harta milik mereka yang berjumlah besar kepada ordo. Tambahan pendapatan datang dari aktivitas bisnis.

Semenjak para biarawan tersebut telah mengambil sumpah kemiskinan, namun memiliki kekuatan prasarana keuangan internasional yang tepercaya dan besar jumlahnya, orang-orang ningrat dan kaya pada zaman itu terkadang menggunakan mereka sebagai semacam bank atau notaris. Apabila seorang ningrat berniat untuk bergabung dalam Perang Salib , hal ini akan membuatnya tidak bisa berada di rumah selama bertahun-tahun.

Jadi, beberapa orang ningrat akan menitipkan semua kekayaan dan aktivitas niaganya di bawah kontrol para Kesatria Ordo Bait Allah, untuk menjaganya hingga kembalinya mereka dari perang.

Kekuatan finansial ordo ini menjadi sangat besar, dan sebagian besar prasarana ordo ini digunakan tidak untuk peperangan, tapi untuk mengejar tujuan-tujuan ekonomi. Pada tahun , misi awal ordo ini untuk mengawal para peziarah telah berubah menjadi misi untuk menjaga harta milik peziarah melalui cara-cara inovatif seperti menerbitkan letter of credit , sebuah bentuk awal dari perbankan modern.

Para peziarah akan mendatangi sebuah rumah Templar di negaranya, mendepositkan surat-surat dan harta berharga mereka. Para Kesatria Ordo Bait Allah ini kemudian akan memberikan para peziarah ini sepucuk surat yang menjelaskan apa yang mereka terima dan simpan. Para cendekiawan modern telah menyatakan bahwa surat-surat berharga ini dirahasiakan dengan menggunakan huruf-huruf sandi berdasar pada Salib Malta ; namun terdapat selisih pendapat mengenai hal ini, dan mungkin juga sistem kode ini digunakan belakangan dan bukannya sesuatu yang digunakan oleh para Kesatria Ordo Bait Allah pada abad pertengahan.

Hal ini menjada keamanan para peziarah semenjak mereka tidak melakukan perjalanan dengan membawa barang-barang berharga, dan hal ini juga semakian memperbesar kekuatan para Kesatria Ordo Bait Allah. Keterlibatan para Kesatria Ordo Bait Allah dalam dunia perbankan semakin lama menjadikannya dasar dari mata uang baru, karena para kesatria ini semakin terlibat di dalam aktivitas perbankan. Ordo ini memiliki kemampuan untuk memelihara hingga 4. Selain itu juga, tingkat kematian yang tinggi dari para kesatria di timur biasanya sekitar sembilan puluh persen di medan perang, tidak termasuk yang cedera membuat biaya kampanya perang menjadi sangat tinggi karena kebutuhan untuk menarik dan melatih kesatria-kesatria baru.

Hubungan politik dan pengertian Ordo Bait Allah atas sifat komunitas outremer yang pada dasarnya adalah urban dan komersial menjadikan ordo ini sebagai suatu kekuatan penting, baik di Eropa maupun di Tanah Suci.

Keberhasilan Ordo Bait Allah ini menjadi kekhawatiran banyak ordo lainnya, dua ordo besar di antaranya yang bisa menyaingi kekuatannya adalah Kesatria Hospitaller dan Kesatria Teutonik. Banyak bangsawan lainnya juga memiliki kekhawatiran terhadap Ordo Bait Allah ini, terutama atas dasar alasan-alasan finansial, dan kekhawatiran atas suatu kekuatan militer mandiri yang bisa bergerak secara bebas melewati semua perbatasan.

Kecerdikan militer Ordo Bait Allah yang telah lama terkenal mulai mengalami sandungan pada tahun an. Pada tanggal 4 Juli terjadilah Pertempuran di Tanjung Hattin yang fatal, yang menjadi titik balik dalam Perang Salib.

Peristiwa ini sekali lagi melibatkan Saladin , yang pernah dikalahkan oleh Ordo Bait Allah pada tahun dalam Pertempuran Montsigard dekat Tiberias yang terkenal itu, namun kali ini Saladin lebih siap siaga.

Ia bukanlah seorang ahli strategi militer yang baik dan membuat beberapa kesalahan fatal, di antaranya melakukan perjalanan dengan kekuatan 80 kesatria-nya di bawah terik matahari padang pasir yang menyengat tanpa membawa persediaan air yang cukup. Para Kesatria Ordo Bait Allah ini dikalahkan oleh panasnya gurun pasir dalam waktu satu hari, dan kemudian dikepung dan dibantai oleh tentara Saladin.

Ridefort kemudian membuat kesalahan lebih besar lagi yang benar-benar menjatuhkan semangat tempur seluruh kesatria Ordo Bait Allah : bukannya ia bertempur hingga mati sebagaimana yang dimandatkan sebagai Kesatria Ordo Bait Allah, Ridefort ditangkap dan dijadikan barang tebusan untuk menyerahkan Gaza pada Saladin. Ia mencoba menyerang pasukan Saladin lagi beberapa bulan kemudian dalam peristiwa Pengepungan Acre, namun hal ini juga berakhir dengan kegagalan dan ditangkapnya lagi Ridefort, kecuali kali ini ia dipenggal kepalanya.

Pertempuran ini menandai titik balik dalam Perang Salib, dan dalam waktu setahun pasukan Muslim berhasil merebut Yerusalem. Hal ini mengguncang kekuatan organisasi Ordo Bait Allah di mana alasan utama berdirinya adalah untuk mendukung segala perjuangan di Tanah Suci.

Mereka mencoba untuk membangkitkan kembali dukungan di antara para bangsawan Eropa untuk kembali bertempur, namun setelah kegagalan yang ditunjukkan oleh Pemimpin Agung Gerard de Ridefort, Prancis menarik dukungannya. Tanpa dukungan negara-negara lain, bahkan kepemimpinan luar biasa dari Raja Richard Berhati Singa tidaklah mencukupi. Ordo Bait Allah mengalami kekalahan satu demi satu, seperti di Pertempuran Jaffa tahun Dalam sebuah pertempuran yang sangat mengenaskan pada tahun , Kesatria Ordo Bait Allah tewas sementara lainnya terluka.

Dengan tiap kekalahan, seperti dalam Pertempuran al-Mansurah pada tahun atau Pengepungan Safad pada tahun , Eropa semakin tidak tertarik untuk terlibat dalam kekalahan pertempuran di Perang Salib. Ordo Bait Allah semakin hari semakin banyak kehilangan tanah miliknya, dan setelah peristiwa Pengepungan Acre pada tahun , mereka terpaksa memindahkan markas besar mereka ke pulau Siprus.

Salah satu tugasnya adalah untuk melakukan perjalanan di seluruh penjuru Eropa untuk membangun dukungan pada ordo dan mencoba menyusun kekuatan untuk kampanye Perang Salib berikutnya.

Raja Charles II dari Napoli dan Edward I dari Inggris juga memberikan berbagai macam dukungan, baik dengan tetap membebaskan para Kesatria Ordo Bait Allah dari pajak maupun memberikan dukungan di waktu yang akan datang dalam usaha membangun kekuatan militer baru.

Pada tahun atau , ordo militer Ordo Bait Allah dan Kesatria Hospitaller beserta para pemimpin mereka, termasuk di antaranya Jacques de Molay , Otton de Grandson serta Pemimpin Agung Kaum Hospitaller, melakukan kampanye perang singkat di Armenia , untuk mengusir serbuan kaum Mamluk. Pada tahun , Ordo Bait Allah, bersama-sama dengan Kesatria Hospitaller dan kekuatan tentara dari Siprus mencoba untuk merebut kota pantai Tortosa.

Mereka berhasil untuk merebut Pulau Arwad, dekat Tortosa , tapi tak lama kemudian kehilangan pulau itu. Walaupun mereka masih memiliki markas operasi di Siprus, dan menguasai dana finansial yang cukup besar, Ordo Bait Allah menjadi sebuah ordo tanpa suatu tujuan dan dukungan yang jelas.

Situasi yang tidak stabil ini mendorong kejatuhan mereka. Pada saat mereka mulai ditangkapi, Ordo Bait Allah telah mengumpulkan kekayaan yang berjumlah sangat besar, walaupun jumlahnya tidak sebanyak yang dimiliki kaum Hospitaller. Ketika mereka berada di Tanah Suci dan saat kembali dari sana, mereka dibebaskan dari semua pajak dan memiliki banyak hak istimewa. Mereka meminjamkan uang yang sangat besar jumlahnya kepada Raja-raja baik di Inggris maupun di Prancis, disamping juga kepada para bangsawannya.

Untuk penjelasan mengenai penganiayaan terhadap Kesatria Ordo Bait Allah oleh Raja Philip IV dari Prancis , dapat disimpulkan bahwa pertimbangan-pertimbangan finansial menjadi alasan dasarnya: "Kekayaan ordo ini lebih dari cukup untuk menarik keserakahan para perampok berdarah biru, sementara kekuasaan dan hak-hal istimewa mereka cukup melahirkan ketidak-percayaan bahkan di benak raja-raja yang tidak selalim Raja Philip. Sementara raja ini telah berhutang banyak kepada mereka.

Salah satu dari sekian banyak contoh adalah pada tahun , ordo ini meminjamkan uang dengan jumlah yang besar sebanyak lima ratus ribu livres untuk mas kawin saudara perempuannya. Ia juga sangat membutuhkan aliran dana yang besar untuk biaya Perang Flemish.

Ia telah menetapkan pajak yang sangat besar hingga menyebabkan beberapa warganya melakukan pemberontakan, sementara beberapa pihak lainnya telah berpikir untuk melakukannya.

Saat berada dalam tekanan finansial yang sangat besar, ia menurunkan nilai mata uangnya hingga suatu pemberontakan besar terjadi di Paris. Selama adanya pemberontakan ini sang raja berlindung di balik tembok biara, dan adalah para Kesatria Ordo Bait Allah yang menyelamatkannya dari serangan para pemberontak. Semua hutang budi ini menjadi suatu beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh seorang raja yang berusaha untuk menjadikan dirinya seorang penguasa absolut.

Sumber-sumber dananya telah habis dan pilihan tindakan lainnya hanya tinggal sedikit. Apabila ditanya mengapa Raja Philip menyerang Ordo Bait Allah dan bukannya Kesatria Hospitaller, jawabannya mungkin karena faktanya Kesatria Ordo Bait Allah saat itu lebih lemah di antara keduanya, sementara kerahasiaan yang menyelimuti ritual para Kesatria Ordo Bait Allah hanyalah suatu objek dari kecurigaan orang-orang belaka.

Rencana kemudian dibuat. Para menteri dan kaki-tangan Raja Philip seperti Guillaume de Nogaret, Guillaume de Plaisian, Eenaiid de Roye, dan Enguerrand de Marigny sangat senang dengan adanya suatu kesempatan untuk mengisi kembali kas kerajaan yang kosong; selain itu mereka sama sekali tidak ada masalah untuk membuat daftar kesaksian-kesaksian yang memberatkan Ordo Bait Allah, semenjak sejarah telah membuktikan bagaimana banyaknya bukti yang telah tersimpan dari para saksi yang tepercaya yang mendakwa Paus Bonifasius VIII atas kejahatan-kejahatan yang sama kejamnya.

Banyak juga para mantan Kesatria Ordo Bait Allah yang dikeluarkan dari ordo karena tindakan-tindakan salah mereka, dan yang mau untuk melampiaskan rasa benci mereka kepada ordo tersebut. Ada juga para anggota ordo yang murtad yang dipenjara kalau tertangkap karena desersi dan para pembohong yang berjumlah cukup banyak di mana dari mereka ini para aparat kerajaan bisa memperoleh bukti-bukti dan kesaksian-kesaksian yang dibutuhkan untuk tujuan tertentu.

Semua ini secara diam-diam dikumpulkan oleh Guillaume de Nogaret, dan disimpan dengan sangat rahasia di Corbeil di bawah tanggung jawab seorang biarawan Dominikan , Humbert. Tentunya dari semua ini, ajaran sesat merupakan tuduhan yang paling mudah untuk diajukan. Pihak Inkuisisi juga ada sebagai alat penting untuk memperoleh dakwaan.

ETIKA PARIWARA INDONESIA PDF

Sejarah Ordo Bait Allah

.

CHELEBELA BY RABINDRANATH TAGORE PDF

Pedang & Kitab Suci

.

GREGORY BATESON ANGELS FEAR PDF

Oh no, there's been an error

.

MACROECONOMICS AN INTRODUCTION TO ADVANCED METHODS WILLIAM SCARTH PDF

Pedang dan Kitab Suci (DVD) (End)

.

Related Articles